Pantang Menyerah! Lukman Peras Keringat Untuk Bertahan Hidup di Tengah Pandemi Covid-19

Lukman (38 tahun) seorang Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan Basuki Rahmat depan Bank Syariah Mandiri Kota Mataram tampak lesu. Itu dikarenakan dia memikirkan nasib dagangannya yang sepi pembeli di masa pandemi Covid-19, Jum’at (17/11/021).

 

Sebagai kepala keluarga dari seorang istri dan 2 anak yang masih kecil, penghasilannya yang begitu minim membuat dirinya hampir putus asa meraup rezeki di masa pandemi Covid-19.

 

Bahkan ia merasa sudah nyaris tak mampu lagi mempertahankan usahanya di tengah pandemi COVID-19. Saat PPKM Darurat mulai diberlakukan pemerintah, pelapak gerobak bakso itu memutuskan sempat memilih berhenti jualan selama seminggu penuh.

 

“Sekarang ini susah untuk mendapatkan penghasilan 30 ribu perhari Pak. Jangankan 30 ribu, kadang satu hari cuma dapat 5 ribu saja pak,” ujarnya dengan nada lirih.

 

 

Dia pun mencurahkan isi hatinya ketika ditditemui wartawan bertuahpos beberapa waktu lalu. Persoalan hidup lain juga mulai menghampirinya, seperti, memenuhi kebutuhan sehari-hari yang sebelumnya bakal modal usaha pun perlahan terkikis.

 

Terlebih lagi, ia belum menutupi utang sisa pembayaran stok barang-barang sebelumnya kepada pemasok. “Pandemi buat saya terlilit utang pinjaman bank yang masih 1 tahun 10 bulan lagi,” terangnya.

 

Lukman bahkan sempat beberapa kali mencoba mengurus bantuan dari pemerintah, namun hasilnya tidak memuaskan. Kendati begitu, bantuan usaha produktif mikro atau BPUM yang diluncurkan pemerintah pun tidak terjamah oleh pedagang yang sudah pasrah dengan keadaannya saat ini.

 

Padahal, Lukman sangat berharap bantuan pemerintah mengalir ke pedagang kecil sepertinya. Kini ia hanya bisa pasrah meratapi nasib dalam berjuang meraup rezeki di masa pandemi.

 

Mau dikeluhkan dengan siapa lagi tanyanya, Lukman sampai kini masih percaya bahwa pemerintah akan ada buat rakyatnya yang kesusahan.

 

Ia juga telah berusaha untuk tetap ikut anjuran pemerintah melakukan protokol kesehatan ketat saat berjualan, dengan memakai masker dan menyediakan cuci tangan hingga sampai kini Lukman terus berusaha bangkit dari keterpurukan karena pandemi, meski begitu penghasilannya hanya cukup buat beli makan sehari-hari saja.

 

 

Share
x

Check Also

Prof Dr Reda Manthovani: Ses deux jambes ont été amputées, mais il est devenu un athlète extraordinaire. (L’histoire d’une athlète paralympique de Paris 2024).

Chef de Mission (CdM) du Contingent Indonésien pour les Jeux Paralympiques de Paris 2024, Prof. ...

Kurangi Ketergantungan Bahan Baku Impor, UKMK Didorong Gunakan Produk Berbahan Sawit

Pelaku usaha kecil, menengah dan Koperasi (UKMK) didorong untuk beralih ke produk berbahan sawit, dalam rangka ...

Waspada Antraks dan PMK, Berapa Lama Daging Kurban Boleh Disimpan? Ini Kata Pakar

Jumlah daging kurban yang banyak tak memungkinkan bagi kita untuk mengonsumsinya langsung habis. Daging kurban, biasanya ...