Masjid Lumpur (2) : Menara Masjid Dari Kulit Telur Burung Onta

Kota Djenne termasuk kota yang beruntung. Dua sungai, Niger dan Bani, mengalirinya. Meski nampaknya biasa-biasa saja, namun sungai ini berbeda dengan sungai pada umumnya. Yang membuat berbeda adalah jenis lumpur yang berada di dasar sungai. Keras dan padat.

Kelebihan ini telah terdeteksi sejak lama oleh masyarakat Djenne. Mereka pun bereksperimen menjadikannya bahan bangunan. Di luar dugaan, lumpur sungai itu sangat kuat. Sejak saat itu rumah-rumah penduduk Mali dibangun dari lumpur sungai dan berdiri kokoh hingga kini.

Djenne yang sering dikunjungi oleh peziarah muslim dari Afrika Barat  juga dikenal sebagai pusat studi agama Islam. Masjid pertama dibangun oleh Sultan Koi Kunboro pada tahun 1240. Namun pembangunan Masjid Djenne yang serius baru dimulai pada tahun 1906, ketika Mali berada di bawah kekuasaan Perancis.

Seperti rumah-rumah penduduk Mali lainnya, bisa dibilang ini adalah masjid serba lumpur. Mulai dari batu bata, adukan semen perekat, hingga plesternya semua terbuat dari lumpur sungai. Khusus untuk batu bata, lumpur dibentuk persegi panjang dan dijemur.

Dirancang oleh arsitek muslim bernama Ismaila Traore yang juga ketua serikat buruh Mali, ketebalan dinding masjid ini bervariasi antara 16 sampai 24 inchi, tergantung ketinggiannya. Variasi kepadatan dinding juga penting untuk menahan beban bangunan dan memberi penyekatan panas matahari.

Pada pagi hingga siang hari, bangunan akan memanas berawal dari dinding luar dan merambat ke dinding dalam. Pada malam hari, suhu mendingin kembali. Ini sangat membantu dalam mempertahankan suhu ruangan masjid agar tetap sejuk.

Keunikan lain masjid ini adalah ketiga menaranya. Bentuknya biasa saja, namun lapisan luarnya terbuat dari kulit telur burung unta. Penduduk Mali meyakini burung unta adalah lambang kesuburan dan kemurnian.

Dua hal ini merupakan prinsip hidup yang utama bagi mereka, karenanya menjadi bahan pilihan untuk melapisi menara masjid.

Mungkin bukan suatu kebetulan juga bahwa ternyata kulit telut burung unta memiliki daya lindung yang tinggi terhadap bangunan. Terbukti, sejak dibangun pertama kali hingga kini, menara masjid masih tampak kokoh dan berkilat. jss

Share
x

Check Also

Mudik dengan Mobil? Begini Cara Mengatur Muatan Mobil

MATARAMPOS.COM – Momen mudik lebaran 2022 semakin dekat, bagi kamu yang memiliki rencana pulang kampung ...

Ternyata Ini Alasan Taufik Hidayat Tak Mau Jadi Pelatih Bulutangkis

MATARAMPOS.COM – Taufik Hidayat secara tegas menyatakan tak mau menjadi pelatih bulutangkis meskipun banyak yang ...

PWNU NTB Siap Sukseskan Vaksinasi Booster Sesuai Intruksi PBNU

  MATARAM: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), bersama Kementerian Agama dan Kepolisian Republik Indonesia mencanangkan ...