MATARAMPOS.COM – Di tengah meningkatnya ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah, akibat perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, aktivitas ibadah di Masjidil Haram, Makah, sejauh ini tetap berlangsung normal.
Senin, 2 Maret 2026, Bertuahpos menghubungi salah seorang jemaah umrah asal Pekanbaru, Satria Utama Batubara. Dari Masjidil Haram, dia menyebut sejauh ini seluruh rangkaian ibadah berjalan seperti biasa tanpa gangguan berarti.
Jamaah dari berbagai negara tetap menjalankan tawaf, sa’i hingga tahallul dengan lancar di tengah padatnya jamaah umrah di bulan Ramadan.
“Alhamdulillah kondisi di Masjidil Haram masih seperti biasa, aman dan terkendali. Seluruh kegiatan ibadah, mulai dari tawaf, sa’i hingga tahallul, berjalan normal. Salat wajib maupun tarawih juga berlangsung khusyuk dan lancar,” ujar Satria.
Konflik Jadi Perbincangan Jamaah
Meski aktivitas ibadah berlangsung normal, konflik Timur Tengah menjadi topik yang kerap dibicarakan antarjemaah di sana. Terkait perkembangan situasi keamanan hingga penerbangan menjadi informasi paling penting di antara jemaah, terutama menyangkut jadwal kepulangan mereka.
Satria menyebut rombongan travelnya berjumlah 45 orang. Mereka berangkat dari Kota Pekanbaru ke Tanah Haram pada 22 Februari lalu. Setidaknya ada sekitar lima hingga tujuh travel lain yang turut memberangkatkan jamaah dari Indonesia.
“Saat ini, diperkirakan masih ada ratusan jamaah Indonesia masih berada di Tanah Suci. Kami terus memantau perkembangan konflik, terutama terkait penerbangan. Sampai sekarang belum ada informasi valid soal perubahan jadwal,” ujarnya.
Sejauh ini, kata Satria, pihak travel menyampaikan bahwa kepulangan rombongannya masih sesuai rencana, karena maskapai yang digunakan belum mengeluarkan kebijakan pembatalan penerbangan.
Namun situasi berbeda dialami beberapa maskapai internasional lain yang disebut telah menunda atau membatalkan penerbangan menuju Jeddah. “Jadi memang ada kekhawatiran, tapi untuk rombongan kami masih aman sejauh ini,” jelasnya.
Saat ini, satu-satunya harapan jemaah umrah, kata dia, agar konflik tidak meningkat sehingga berdampak pada operasional bandara — mengingat sejumlah bandara di kawasan Timur Tengah sebelumnya sempat ditutup akibat serangan.
Satria juga menceritakan pengalaman penerbangan menuju Arab Saudi yang sempat membuatnya cemas. Pesawat yang ditumpangi secara langsung memang tidak melintasi langsung zona konflik, namun tetap berada di kawasan yang relatif dekat.
“Kemarin rute penerbangan lewat India lalu masuk wilayah Timur Tengah. Tidak langsung melewati daerah konflik, tapi tetap ada rasa waswas,” katanya.
Menurutnya, kekhawatiran terbesar bukan sebatas soal serangan langsung, melainkan kemungkinan pecahan rudal akibat sistem pertahanan udara yang dapat jatuh ke area lain.
Pengamanan Arab Saudi Ditingkatkan
Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah Arab Saudi disebut meningkatkan pengamanan di sekitar Makkah. Salah satu perubahan yang terlihat adalah patroli udara menggunakan helikopter, sesuatu yang jarang terlihat sebelumnya.
Selain itu, otoritas setempat juga mengeluarkan imbauan kepada warga dan jamaah agar tetap tenang serta tidak mengunggah video yang berkaitan dengan fasilitas pemerintahan atau objek sensitif.
“Beberapa hari ini terlihat helikopter patroli. Pemerintah Arab Saudi juga mengimbau jamaah tetap tenang dan tidak mengunggah video tertentu,” ungkap Satria.
Di tengah situasi yang belum sepenuhnya stabil, para jamaah memilih tetap fokus menjalankan ibadah. Harapan terbesar mereka adalah kondisi tetap kondusif hingga jadwal kepulangan tiba.
Bagi banyak jamaah, pengalaman beribadah di Masjidil Haram saat situasi dunia tidak menentu justru menjadi pengingat akan pentingnya ketenangan dan doa.
“Kami berharap tidak ada eskalasi konflik sampai waktu pulang nanti. Insyaallah semuanya tetap aman,” ujar Satria Utama Batubara.***






