Perayaan Tahun Baru, Satgas Covid-19 NTB Ancam Pidanakan Pemicu Kerumunan

 

 

MATARAM- Satgas Covid-19 Provinsi NTB mengancam akan mempidanakan tempat usaha dan pengelola destinasi wisata yang membuat kerumunan pada malam pergantian tahun baru. Selain akan dikenakan sanksi denda sesuai Perda No. 7 Tahun 2020, tempat usaha dan pengelola destinasi yang melanggar protokol kesehatan Covid-19 juga akan diproses pidana.

 

‘’Kerumunan akan ditindak tegas. Pak Kapolda jelas menyampaikan terkait dengan para pelanggar protokol kesehatan.  Terkait dengan perayaan tahun baru, hindari kerumunan. Bagi yang memicu terjadinya kerumunan, maka akan dipidanakan,’’ ujar Anggota Satgas Covid-19 yang juga Kepala Satpol PP NTB, Drs. Tri Budiprayitno, M. Si., d kepada wartawan, Selasa, 25 Desember 2020

 

Ia menjelaskan, pemberian sanksi administratif dan sanksi pidana sudah ada di dalam Perda maupun UU tentang Kekarantinaan. Selain itu, dalam waktu dekat ini, gubernur akan mengeluarkan surat edaran terkait dengan pembatasan kegiatan saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

 

‘’Kabupaten/kota juga sudah mulai melakukan itu. Kita tengarai memang, kalau penggunaan masker relatif sudah banyak yang memakai. Tapi jaga jarak, menghindari kerumunan masih  belum,’’ katanya.

 

Ia menegaskan akan dilakukan tindakan tegas bagi pelanggar protokol kesehatan pada libur Nataru.  ‘’Akan diberikan shock therapy, bisa jadi begitu bahasanya. Ada tindakan tegas bagi para pelanggar,’’ tegasnya.

 

 

Satgas Covid-19 Provinsi NTB berharap tak ada perayaan tahun baru yang berpotensi menimbulkan kerumunan massa. Karena, pihak kepolisian sendiri, katanya sudah mengatakan tidak akan mengeluarkan izin keramaian.

 

‘’Bahkan Kapolda sudah mengajak Kajati, apabila ada indikasi pelanggaran pada pasal-pasal pidana, siap untuk memprosesnya. Karena kita tahu, kasus Covid-19 di NTB mulai meningkat, kasus kematian juga ada setiap hari,’’ katanya.

 

Perayaan Tahun Baru akan dibatasi, tidak boleh ada kerumunan massa. Jika ada pemilik tempat usaha seperti kafe dan tempat hiburan malam yang melanggar protokol kesehatan, maka akan langsung ditindak.

 

Satgas Covid-19 meminta para pemilik usaha agar jangan main kucing-kucingan. Karena jumlah aparat terbatas. ‘’Kita berharap pemilik tempat usaha ikut terlibat menjadi patriot Covid-19. Dengan menghindari acara-acara yang membuat kerumunan,’’ harapnya.

 

Sementara untuk mencegah kerumunan di destinasi wisata, ia mengatakan telah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pariwisata NTB. Dari penjelasan Dinas Pariwisata, hampir seluruh destinasi wisata yang ada pengelolanya, sudah dilakukan identifikasi dan persertifikasian Cleanliness, Health, Safety and Environment (CHSE).

 

Jika ada destinasi wisata yang sudah mengantongi CHSE, tetapi di lapangan ditemukan tak menerapkan protokol kesehatan. Maka sertifikat CHSE akan dicabut. ‘’Selain pencabutan CHSE, juga kena sanksi denda dan pidana sesuai UU,’’ tandasnya (red/11).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share
x

Check Also

Prof Dr Reda Manthovani: Ses deux jambes ont été amputées, mais il est devenu un athlète extraordinaire. (L’histoire d’une athlète paralympique de Paris 2024).

Chef de Mission (CdM) du Contingent Indonésien pour les Jeux Paralympiques de Paris 2024, Prof. ...

Kurangi Ketergantungan Bahan Baku Impor, UKMK Didorong Gunakan Produk Berbahan Sawit

Pelaku usaha kecil, menengah dan Koperasi (UKMK) didorong untuk beralih ke produk berbahan sawit, dalam rangka ...

Waspada Antraks dan PMK, Berapa Lama Daging Kurban Boleh Disimpan? Ini Kata Pakar

Jumlah daging kurban yang banyak tak memungkinkan bagi kita untuk mengonsumsinya langsung habis. Daging kurban, biasanya ...